Musim ke sepuluh
Diperantara MATA dan sepicik sinar
Tertelan didalamnya gulungan nanar
Dan sakit apabila bunyi didengingkan
API dari seberkas kilat jalar
Mengutuk ketuk pintu dan kantuk
Membuat sedak dan lagi mengguncang
Memainkan pertanda
Akan malam apabila ia teriring
Serta ufuk apabila ia merunduk
Tampilkan postingan dengan label SAJAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SAJAK. Tampilkan semua postingan
Selasa, 20 Januari 2015
Minggu, 16 November 2014
TEDUH
Sepertiga rumput
meringkuk sendu
gemetar
dingin
berpayung air
meringkuk sendu
gemetar
dingin
berpayung air
Seperempat matahari
mengintip
mengutip
menitip senja
di ujung remang
kelam
Selusin teduh
sejuk
sepi
sunyi
lengang
Jumat, 03 Oktober 2014
Sajak dari Penikmat Hujan dan Senja sekaligus!!
Apa matahari sudah meninggi saat aku bilang ini
hampir senin.
Aku bukan pandai pura-pura dan biar kuberitahu
mereka akan adanya.
Aku sudah lelah dengan jengah dan payah.
Akan berapa banyak lagi almari yang kusimpan untuk
kisah cinta mati?
Jika hujan tiba-tiba datang dan kau masih
disebrang, maka mari bersua.
Seperti tanggal muda di awal tahun yang kita
pernah.
Bagaimana aku menyukaimu, aku tidak tahu.
Aku tidak tahu.
Aku tidak tahu.
Aku bukan pandai sederhana.
Aku adalah pembangga.
Termasuk ketika kubanggakan namamu.
Kubanggakan namamu.
Dalam jerit yang didengar ghaib.
Minggu, 06 Juli 2014
Sepagi Hujan...
Sepagi hujan//
Dan basah jalanan//
Aroma air dedahanan//
Rindu yang tak berkesudahan//
Kau dimana?//
Dimana kau?//
Bisakah kiranya kusampaikan//
Mohon kau sudi tuk dengarkan//
Yang lain tak perlu tahu/ biarkan//
Merdekaku biar kutentukan//
Diam-diam kau kudo'akan//
Semoga tiada resah kau rasakan//
Seperti resahku//
Seperti inginku yang tak kesampaian//
Kau dimana?//
Dimana kau?//
Dan basah jalanan//
Aroma air dedahanan//
Rindu yang tak berkesudahan//
Kau dimana?//
Dimana kau?//
Bisakah kiranya kusampaikan//
Mohon kau sudi tuk dengarkan//
Yang lain tak perlu tahu/ biarkan//
Merdekaku biar kutentukan//
Diam-diam kau kudo'akan//
Semoga tiada resah kau rasakan//
Seperti resahku//
Seperti inginku yang tak kesampaian//
Kau dimana?//
Dimana kau?//
Jumat, 30 Mei 2014
Membaca "Hati"
Sepertinya kau perlu belajar banyak tentang ilmu membaca hati/
Atau sekali lagi tipuanmu mati-matian membuatmu merasa tidak perlu sadar arti?/
Mungkin kau paham yang kau buat enggan//
Tapi mungkin jika kau belum tahu/
Biar ku beritahu kau/
Bahwa ia menyukaimu//
Pada sela mimpi/ malam/ kesempatan/ dan perasaan/
Parasnya yang aku belum tahu seperti apa/
Tapi demi apapun aku tahu seperti apa hatinya//
Dia menyukaimu!//
Kira-kira kalau dia benar menyukaimu/
Bagaimana perasaanmu? atau apa peduliku?//
Oh, sungguh/
Aku hanya ingin memberitahu/
Ia menyukaimu//
Caranya meminta/
Meminta pedulimu/ jika kau tahu//
Caranya memerhati/
Memperhatikanmu/ jika kau tahu//
Aku tahu dia menyukaimu//
Tapi nanti bila kau telah mau tahu/
Bisakah kiranya kau beritahu aku?/
Perlukah aku cemburu?/
Karena aku ternyata..//
Juga menyukaimu!//
Minggu, 25 Mei 2014
PULANG
"Pulang"
Sepatah yang mengumbar hati patah.
Tapi saya benar-benar ingin pulang.
Pulang ke(rumah yang) mana?
Saya juga tidak tahu.
Setahu saya, terselip harapan yang menganga dalam pulang.
Memulangkan riuh redam hidup.
Merangkul kembali impian bersama jiwa yang "menginginkan kita".
Atau setidaknya yang merindukan ketiadaan kita.
Dan kita pulang, bersua, menemukan rasa itu kembali.
Rasa dimana hidup terasa lebih berarti,
Untuk dibagi.
Sejauh ini,
Terlalu banyak mimpi yang turut saya ajak pergi.
Sejatinya semua harapan itu ternyata tidak pernah bermuara.
Mereka tidak bisa selalu menjadi apa yang saya ingini.
Atau saya juga tidak akan pernah bisa selalu mengerti apa yang mereka maksud.
Jadi ketika saya pulang, mungkin rindu itu akan hanya terselip sedetik, dan mereka berlalu lagi.
Perasaan seperti perasaan ini adalah hal yang paling saya tidak sukai.
Saya ingin pulang.
Walau sendirian, setidaknya tidak lagi merepotkan.
Saya ingin pulang.
Ditempat dimana saya bisa hidup tenang tanpa bayang-bayang tidak diinginkan.
Saya ingin pulang.
Menyudahi segala rasa sedih ini.
Menyadari sisi hidup saya.
Sendiri.
Sepatah yang mengumbar hati patah.
Tapi saya benar-benar ingin pulang.
Pulang ke(rumah yang) mana?
Saya juga tidak tahu.
Setahu saya, terselip harapan yang menganga dalam pulang.
Memulangkan riuh redam hidup.
Merangkul kembali impian bersama jiwa yang "menginginkan kita".
Atau setidaknya yang merindukan ketiadaan kita.
Dan kita pulang, bersua, menemukan rasa itu kembali.
Rasa dimana hidup terasa lebih berarti,
Untuk dibagi.
Sejauh ini,
Terlalu banyak mimpi yang turut saya ajak pergi.
Sejatinya semua harapan itu ternyata tidak pernah bermuara.
Mereka tidak bisa selalu menjadi apa yang saya ingini.
Atau saya juga tidak akan pernah bisa selalu mengerti apa yang mereka maksud.
Jadi ketika saya pulang, mungkin rindu itu akan hanya terselip sedetik, dan mereka berlalu lagi.
Perasaan seperti perasaan ini adalah hal yang paling saya tidak sukai.
Saya ingin pulang.
Walau sendirian, setidaknya tidak lagi merepotkan.
Saya ingin pulang.
Ditempat dimana saya bisa hidup tenang tanpa bayang-bayang tidak diinginkan.
Saya ingin pulang.
Menyudahi segala rasa sedih ini.
Menyadari sisi hidup saya.
Sendiri.
Minggu, 27 April 2014
...//
Ada bagian hampa/ yang tidak berani aku merasainya/ menyedihkan//
Bagaimana bisa kita kehilangan banyak hal?//
Dan aku disini/ dan kau disana/ terpisah//
Oh.. semoga tidak berpisah//
Apa kabarmu hari ini/ lelaki yang kuingini jadi milikku?//
Sendirikah?/ Kesepian?/ Ingat aku-kah?//
Ah.. sejak kapan aku jadi mengenaskan begini?//
Menertawai hidup yang penuh angan//
Menantang matahari yang tinggalkan gersang//
Mungkin kau takkan kembali//
Mungkin kau telah mati//
Tapi kau pernah..//
Begitu...//
......//
Bagaimana bisa kita kehilangan banyak hal?//
Dan aku disini/ dan kau disana/ terpisah//
Oh.. semoga tidak berpisah//
Apa kabarmu hari ini/ lelaki yang kuingini jadi milikku?//
Sendirikah?/ Kesepian?/ Ingat aku-kah?//
Ah.. sejak kapan aku jadi mengenaskan begini?//
Menertawai hidup yang penuh angan//
Menantang matahari yang tinggalkan gersang//
Mungkin kau takkan kembali//
Mungkin kau telah mati//
Tapi kau pernah..//
Begitu...//
......//
Kamis, 16 Januari 2014
Pemberian Tahu - Chairil Anwar
Bukan maksudku mau berbagi nasib,
Nasib adalah kesunyian masing-masing.
Ku pilih kau dari yang banyak, tapi
Sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.
Aku pernah ingin benar padamu,
Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,
Kita berpeluk ciuman tidak jemu,
Rasa tak sanggup kau ku lepaskan.
Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,
Aku memang tidak bisa lama bersama
Ini juga kutulis di kapan, di laut tak bernama!
Minggu, 03 November 2013
MUSTAHIL
Cinta, Cantik, Baik, Pandai, Kaya, Alim, Bahagia, Sejahtera = MUSTAHIL
Ada sepercik tinta.
Warnanya hitam.
Itu berarti dia keruh.
Aku suka heran setiap kali memandangnya merengut.
Kepalanya bersungut-sungut.
Giginya saling bertaut.
Gemerutuk !!!
Sumpah serapah.
Api yang menyala.
Menakutkan.
Disana ada gelora.
Gelora yang nanar.
Tidak mau KALAH.
Harus selalu tampak ter-WAH.
Harus yang ter-ISTIMEWA.
Begitukah??
Suatu dalil.
Yang agamis berbicara tentang surga dan ayat-ayatnya.
Yang pintar berbicara tentang prestasi-prestasinya.
Yang cantik bicara tentang mata jalang yang memuji habisnya.
Yang kaya berbicara tentang kemewahan dunia.
Yang ini yang itu yang semuanya ternyataaa...... ??????
Tidak bisakah kita?
Bersikap untuk biasa.
Aku tidak akan mengambil keberuntunganmu.
Juga kau tidak akan mendapat secuilpun dari garis mujurku.
Jangan dikte aku seperti juragan sombong penunggang keledai.
Aku sungguh tidak akan bisa mengambil apapun darimu.
Kubuka kitab ilmu.
Kata Tuhan "Jangan Mengeluh"
Kata Tuhan "Jangan Sombong"
Kata Tuhan "Jangan Zina"
Dan tapi mengapa Tuhan berkata berulang-ulang
Untuk "JANGAN MUNAFIK????"
Minggu, 19 Mei 2013
SESEKALI
Sesekali memang harus kusadari
Aku mengalah pada kau yang mulai lengah
Ingin bebas tanpa harus kutimbun kau dengan puas
Akan sukaku yang sesungguhnya lebihi batas
Jadi aku harus mengerti
Mencoba menatap pada sudut pandangmu
Bahwa kau juga manusia yang sama bisa jenuh
Bosan, muak dan enggan
Untuk selalu kusuguhi cinta yang sama dan itu-itu saja
Sesekali
Bolehkan aku menangis
Atas batas yang tak pernah aku mengerti
Hingga terlewat jauh kulampaui
Memang seharusnya begitu
Sesekali
Aku harus tahu diri
Aku mengalah pada kau yang mulai lengah
Ingin bebas tanpa harus kutimbun kau dengan puas
Akan sukaku yang sesungguhnya lebihi batas
Jadi aku harus mengerti
Mencoba menatap pada sudut pandangmu
Bahwa kau juga manusia yang sama bisa jenuh
Bosan, muak dan enggan
Untuk selalu kusuguhi cinta yang sama dan itu-itu saja
Sesekali
Bolehkan aku menangis
Atas batas yang tak pernah aku mengerti
Hingga terlewat jauh kulampaui
Memang seharusnya begitu
Sesekali
Aku harus tahu diri
Sabtu, 26 Januari 2013
MENGETUK HATI
Menginjakkan kaki akalku pada namamu
Apa saja yang sebenarnya telah kau perbuat hingga kapalku
pecah
Tak mampu membendung samudra ikan yang berlomba
lompat tinggi menjulang
Atau beradu selam jauh berenang
Ke dasar !!
Aku ingin menilik nafasmu pada salju
Yang izinkan embun menempel pada kaca kristal
warna merah muda
Bajumu masih yang kemarin
Senin, 14 Mei 2012
Melanjutkan Hidup
Aku tidak mengerti apa, aku hanya mengerti aku ada,
aku juga tidak paham untuk apa, aku hanya hidup meraba-raba.
aku berjalan dalam dunia yang biasa,
tapi menyimpan misteri yang luar biasa,
yang menentukan takdir dan akhir kemana.
Aku perasa, merasakan beberapa episode pahit,
dikhianati, ditinggalkan, dicaci atau bahkan digunjing dengan sadis.
aku perasa, merasakan beberapa hal yang tidak masuk akal,
aku tak tahu salahku apa, kuperbaiki kau bilang percuma saja,
akupun biasa saja, yang ingin pergi silahkan saja..
dikhianati, ditinggalkan, dicaci atau bahkan digunjing dengan sadis.
aku perasa, merasakan beberapa hal yang tidak masuk akal,
aku tak tahu salahku apa, kuperbaiki kau bilang percuma saja,
akupun biasa saja, yang ingin pergi silahkan saja..
Kamis, 22 Maret 2012
PENG-AKU-AN
Yang selama ini kita lakukan,
apakah benar hanya tuk sebuah pengakuan?
ataukah murni untuk satu tujuan iman?
apakah benar hanya tuk sebuah pengakuan?
ataukah murni untuk satu tujuan iman?
Yang selama ini kita lakukan?
perlukah tuk kita tuntut arti pengakuan?
ataukah murni agar cukup jadi rahasia Tuhan?
Yang selama ini kita lakukan,
pentingkah tuk kita hadirkan sebuah pengakuan?
atukah murni semua biar berlalu jadi kenangan?
Selasa, 06 Maret 2012
Tuhan Jika Aku Salah.
Tuhan jika aku salah,
maka hukumlah aku di dunia.
Tuhan jika aku salah,
maka ringankanlah lisanku,
ucapkan "maaf" pada mereka yang kusakiti hatinya.
Tuhan jika aku salah,
maka ajarilah aku bersikap ksatria.
Tuhan jika aku salah,
maka rendahkanlah egoku agar kumampu akuinya.
Tuhan jika aku salah,
jangan biarkan aku bersikap aniaya,
Tuhan jika aku salah,
jangan biarkan aku menutupinya.
Tuhan jika aku salah,
jangan ajari aku mengadu domba,
Tuhan jika aku salah,
jangan biarkan aku lari darinya.
Selasa, 28 Februari 2012
Aku Ini...
Aku ini wartawan hidupmu,
wawancara yang kurekam adalah suaramu.
artikel yang akan kubuat adalah smsmu.
(Wartawan Galau)
Aku ini seorang jurnalis,
hobiku adalah menulis,
tapi entah mengapa belakangan yang kutulis,
adalah tentang kisah kita yang romantis.
(Jurnalis Sok Manis)
(Jurnalis Sok Manis)
Aku ini seorang novelis,
biasanya ceritaku bertema drama sadis,
entah mengapa sekarang berubah jadi cerita manis.
(Novelis Labil)
Aku ini sang redaksi,
beritaku terbit setiap pagi,
dimuat di koran dan di tivi,
dan kali ini aku ingin berbagi,
tentang kamu yang kusayangi.
(Redaksi jatuh Hati)
Sabtu, 25 Februari 2012
SUNGGUH TERLALU !!
"Kita slalu berpendapat kita ini yang terhebat, kesombongan dimasa muda yang indah"
(SO7- Sahabat Sejati)
Tidak perlu menjadi hebat hanya untuk membuat mereka mendekat,
tidak perlu berdandan cantik hanya untuk membuat mereka tertarik,
tidak perlu menjadi kaya hanya untuk membuat mereka ada.
karena sahabat bukan sesuatu yang bisa di nilai
bahkan dengan ketenaranmu,
kekayaanmu, kekuasaanmu, apalagi jabatanmu.
Sahabat bukan siapa yang menemanimu seluruh waktu,
bukan siapa yang sudi ada untuk selalu mendengarkan keluhanmu,
bukan siapa yang selalu bisa membantumu,
karena mereka bukan Tuhan,
jadi tolong, please !!
rubah mindset mu.
Kamis, 16 Februari 2012
INI KINI MILIK-MU
Bojonegoro, 06 Februari 2012 (20:46)
Malam yang cukup sempit untuk pikiran yang terlalu luas.
Malam yang cukup sulit untuk alasan yang tak terbatas.
Malam yang cukup pelit untuk waktu yang kian kandas.
Dan malam yang cukup menggigit untukmu yang sepintas.
Hai,
Aku menemukanmu dalam bayangan kilas lepas.
Aku menjiwaimu, memelukmu dalam redup haru rindu.
Aku meraihmu disudut mimpi dan ruang terpojok itu.
Aku mengunjungimu sesekali walau sebenarnya ingin berkali-kali.
Ya, aku mencoba..
Semua rasaku kini,
INI KINI MILIKMU !!
Semua rasaku kini,
INI KINI MILIKMU !!
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)
.jpg)

.jpg)